Partikel air yang jatuh itu
adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak
langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada suhu
tersebut terjadi perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air
murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat
Celcius. Ini juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau
temperaturnya di atas 100 derajat Celcius karena pada 100 derajat
Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk mempercepat
perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus, misalnya
garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.
Biasanya temperatur udara tepat
di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara
tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi,
temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat
partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air
murni tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain. Ada
partikel-partikel tertentu yang berfungsi mempercepat fase pembekuan,
sehingga air murni dengan cepat menjadi kristal-kristal es.
Partikel-partikel pengotor yang
terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai
pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel
air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air
lainnya membentuk kristal lebih besar.
Jika temperatur udara tidak
sampai melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke
tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan
sampai ke tanah dalam bentuk hujan air.
Keunikan salju yang lainnya
adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi
menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan
struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna
ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.
Fenomena yang sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih,
bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat putih.
Selain itu, turunnya salju
memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep temperatur efektif.
Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh kulit kita,
dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh
termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara.
Temperatur efektif biasanya dipakai untuk menentukan "zona nyaman"�. Di
pantai, temperatur terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita
masih merasa nyaman. Pada saat salju turun lebat, kelembapan udara naik
dan ini memengaruhi temperatur efektif sehingga pada satu kondisi kita
merasa hangat.
Mengenai Proses Terjadinya Hujan Sakju Ini, Penjelasannya Sebagai berikut,
Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.
Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.
Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.
Dapat disimpulkan, bahwa proses hujan salju diawali dengan proses Evaporasi/Transpirasi Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk salju, es.

0 komentar:
Posting Komentar